Oleh : Indra Wahyuni

Curik Bali merupakan maskot Provinsi Bali. Burung ini memiliki peluang bisnis yang sangat menggiurkan bagi peternak burung. Namun, keberadaan jenis burung ini di alam sudah tergolong langka dan endemik di Wilayah Bali khususnya Bali Bagian Barat yang merupakan wilayah habitatnya. Ciri-ciri fisik Curik Bali yaitu keseluruhan tubuhnya berwarna putih kecuali ujung ekor dan ujung sayapnya serta areal sekitar mata berwarna biru sehingga terlihat sangat cantik. Kecantikan ini menjadikan Curik Bali sebagai salah satu burung yang paling diminati oleh kolektor dan pemelihara burung. Oleh karena itu sudah sepatutnya masyarakat Bali melestarikan burung Curik Bali baik secara alamiah maupun melalui penangkaran.

PT. Tirta Investama Mambal Bali telah mengembangkan penangkaran Curik Bali di Banjar Jempanang, Desa Belok Sidan, Kecamatan Petang, Badung, Bali sejak tahun 2015. Penangkaran dilakukan oleh Kelompok Suara Lestari dengan sistem konservasi ex-situ. Sampai saat ini, Kelompok Suara Lestari telah memelihara 12 ekor Curik Bali dengan 2 lokasi kandang penangkaran dan 1 kandang habituasi. Tujuan utama dari penangkaran Curik Bali ini adalah untuk pelepasliaran anakan burung Curik Bali ke alam sebagai upaya peningkatan keanekaragaman hayati di wilayah Jempanang. Ini sudah menjadi komitmen bersama antara PT. Tirta Investama dengan Kelompok Suara Lestari.
Manfaat jangka panjang lainnya adalah anakan hasil penangkaran dapat diperjualbelikan oleh penangkar sesuai dengan ijin peredaran BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam). Hal ini menjadi nilai tambah ekonomi bagi Kelompok Suara Lestari. Peluang penangkaran Curik Bali sangat menguntungkan dari segi ekonomi. Harga indukan burung jenis ini yang berumur 3-4 bulan tergolong mahal sekitar Rp 10- 15 juta, sehingga mulai banyak pemelihara burung yang melakukan penangkaran burung Curik Bali.

Dalam upaya konservasi, pelepasliaran Curik Bali di alam sangat perlu melibatkan aturan adat (perarem) serta dipastikan ada kecukupan tanaman yang dapat menjadi sumber pakan burung sehingga kehidupannya di alam dapat terjamin. Aturan adat diperlukan agar masyarakat ikut terlibat menjaga keamanan burung Curik Bali dari ancaman pemburu satwa yang tidak bertanggungjawab. Hal ini menjadi dasar penbentukan Peraturan Desa Belok Sidan No. 2 Tahun 2017 tentang Perlindungan Tumbuhan dan Satwa Langka. Adanya Peraturan ini mendorong pelestarian khususnya satwa langka yang ada di wilayah Belok Sidan.

Menurut Wayan Ardika, Ketua Kelompok Suara Lestari “memelihara Curik Bali memang lebih rumit dari burung lainnya. Pada saat berkembangbiak, kita harus mengamati perilaku indukanya agar tidak mengganggu telur dan anaknya. Harga beli indukan yang mahal juga menjadi alasan kekhawatiran akan gagal beternak. Lebih lanjut diceritakan bahwa Kelompok Suara Lestari baru pertama kali menangkarkan Curik Bali sehingga banyak tantangan yang dihadapinya. Salah satunya adalah telur burung belum semua dapat menetas sempurna, kematian anakan yang baru lahir akibat perilaku nakal indukan jantan dan kematian 1 ekor Curik Bali”. I Wayan Giriastra, salah satu anggota Kelompok Suara Lestari mengungkapkan “memang perawatan Curik Bali susah-susah gampang namun karena prospek beternak Curik Bali cukup tinggi maka diupayakan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi”. Anggota yang bergabung ke dalam Kelompok Suara Lestari merupakan orang-orang yang memang hobi memelihara burung sehingga mereka tetap semangat dalam menangkarkan Curik Bali yang banyak pantangan.

Kelompok menyediakan pakan burung Curik Bali secara swadaya agar tidak tergantung pada bantuan pihak luar. Langkah awal yang dilakukan kelompok adalah belajar beternak cacing tanah jenis Lumbricus rubellus dengan media kotoran sapi. Selain cacing tanah, kelompok juga membudidayakan jangkrik kalung untuk pakan Curik Bali. Budidaya pakan ini bertujuan agar ketersediaan pakan dapat berkelanjutan.

Kapasitas teknis anggota kelompok diperkuat dengan adanya pendampingan yang intensif dari Asosiasi Pelestari Curik Bali dan BKSDA yang sangat berpengalaman dalam penangkaran Curik Bali. Penguatan kapasitas teknis yang telah difasilitasi yaitu proses perkembangbiakan Curik Bali, pemberian pakan, kesehatan dan upaya pencegahan penyakit. Walaupun demikian, Kelompok Suara Lestari masih mengharapkan monitoring dan asistensi secara regular terutama pada saat ada permasalahan. Hal ini penting dilakukan agar penangkaran Curik Bali di Jempanang dapat mencapai tujuan konservasi, keseimbangan ekosistem dan manfaat ekonomi bagi penangkar dan masyarakat pada umumnya secara berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *