Jempanang, salah satu banjar di wilayah Desa Belok Sidan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung memiliki potensi keanekaragaman hayati yang melimpah. Hal ini dibuktikan dengan masih beragamnya keberadaan flora dan fauna di wilayah tersebut. Salah satu kekayaan alam yang harus tetap dilestarikan bersama-sama.
PT. Tirta Investama Mambal Bali bersama para stakeholder mendorong adanya penelitian inventarisasi secara berkala terkait dengan keanekaragaman hayati di wilayah Jempanang. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan yaitu mengetahui jenis dan tingkat keragaman flora dan fauna darat di Banjar Jempanang, mengetahui status perlindungan terhadap flora dan fauna yang ada serta memberikan rekomendasi dalam rangka pelestarian keanekaragaman hayati di wilayah Banjar Jempanang, Desa Belok Sidan.

I Wayan Widana selaku Kelian Subak Banjar Jempanang menyambut baik adanya inventarisasi keanekaragaman hayati ini. Beliau berujar, dengan adanya kegiatan ini akan sangat membantu untuk mengetahui bagaimana kondisi flora fauna di wilayahnya serta dapat mengambil langkah-langkah pelestarian yang diperlukan agar flora fauna khususnya yang tergolong langka dapat terjaga dengan baik. Ditambahkan pula, keberadaan Subak juga memiliki tanggung jawab dalam pelestarian lingkungan sehingga sangat memungkinkan mengajak masyarakat (Prajuru Subak) dalam kegiatan inventarisasi dan pelestarian keanekaragaman hayati di wilayah Banjar Jempanang.

Inventarisasi flora dan fauna darat di Banjar Jempanang Tahun 2017 dibagi dalam 3 lokasi pengamatan yaitu ladang dan dekat dengan permukiman; hutan dan tepian sungai, dan wilayah perlindungan desa (laba pura). Berdasarkan penelitian, teridentifikasi sebanyak 60 jenis fauna aves/burung. Sebanyak 9 (sembilan) jenis diantaranya merupakan spesies burung yang dilindungi berdasarkan Undang-undang No 5 tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah No 7 tahun 1999 c PP no 8 tahun 1999, yaitu Kipasan belang (Rhipidura javanica, Takur tohtor (Megalaima armillaris), Elang-ular bido (Spilornis cheela), Cekakak Jawa (Halcyon cyanoventris), Opior Jawa (Lophozosterops javanicu), Burung-madu sriganti (Nectarinia jugularis), Luntur guntung (Harpactes reinwardtii), Kuntul kerbau (Bubulcus ibis), dan Cekakak sungai (Todirhamphus chlori). Rata-rata Indeks keanekaragaman berdasarkan Shannon Wiener tercatat dalam katagori sedang, dengan nilai indeks keanekaragaman tertinggi ditemukan di lokasi ladang dan dekat permukiman sebesar 2,542 (sedang).

Untuk kategori fauna non aves (bukan burung), teridentifikasi sebanyak 71 jenis, sebanyak 5 (lima) jenis merupakan fauna langka dan dilindungi oleh Undang-undang No 5 tahun 1990 dan PP no 7 tahun 1999 c PP no 8 tahun 1999, yaitu Kucing hutan (Felis bengalensis), Landak (Hystrix javanica), Trenggiling (Manis javanica), Rase (Viverricula malaccensis), dan Sigung (Mydaus javanensis). Indeks keanekaragaman fauna non aves (bukan burung) termasuk katagori sedang. Indeks keanekaragaman tertinggi ditemukan di lokasi ladang dan dekat permukiman 2.518 (sedang).

Pengamatan terhadap flora darat di Banjar Jempanang Belok Sidan, teridentifikasi sebanyak 215 jenis flora. Sebanyak 11 jenis diantaranya merupakan flora yang langka dan dilindungi menurut Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) yaitu Beringin (Ficus benjamina), Buni (Antidesma bunius), Cempaka kuning (Michelia champaka), Kenanga (Cananga odorata) dan hampir semua jenis bambu yang mempunyai nilai penting bagi kehidupan sosial budaya masyarakat Bali yaitu bambu sudamala, bambu ampel, bambu buluh, bambu putih, bambu jajang, bambu suat dan bambu selem.Analisa terhadap H’ menunjukkan keanekaragaman flora darat di Banjar Jempanang, Desa Belok Sidan berada dalam katagori sedang.

Dengan adanya data inventarisasi keanekaragaman hayati ini direkomendasikan untuk melakukan pelestarian flora dan fauna yang langka atau yang dilindungi, mempunyai arti ekonomis dan bermanfaat secara budaya untuk masyarakat sekitar. Rekomendasi ini juga senada dengan apa yang disampaikan oleh Kepala Desa Belok Sidan, I Made Rumawan. Dari hasil diskusi bersama, adanya Peraturan Desa Belok Sidan No. 2 Tahun 2017 tentang Perlindungan Tumbuhan dan Satwa Langka memiliki dampak positif bagi kelestarian satwa khususnya jenis burung endemik Belok Sidan. Peraturan Desa ini selanjutnya dituangkan di masing-masing banjar melalui aturan adat (perarem) pelestarian keanekaragaman hayati termasuk didalamnya larangan menembak fauna langka. Adanya aturan adat ini juga harus dibarengi dengan peningkatan kesadaran masyarakat sehingga kelestarian keanekaragaman hayati di wilayah masing-masing dapat tetap terjaga sampai generasi berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *